Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Februari 2013
Kepintaran Itu Bisa Menular
Jika ingin pintar, maka bergaul lah dengan orang pintar. Pernahkah Anda mendengar ungkapan ini? Sebuah studi baru di New York berhasil membuktikan kebenaran ungkapan ini dan menyatakan bahwa kepintaran memang dapat menular.
Anak yang berada di lingkungan teman-teman yang lebih pintar dengan nilai yang lebih baik akan mendapatkan nilai yang lebih baik pula di tahun depannya. Demikian hasil temuan dari studi ini.
"Semakin pintar teman Anda saat ini, semakin lebar kesempatan bagi Anda untuk menjadi lebih pintar pula di waktu yang akan datang," ujar penulis studi ini Hiroko Sayama, peneliti sistem di State University New York di Binghamton.
Penemuan ini, yang dipublikasikan dalam jurnal PLos ONE menunjukkan bahwa pencapaian akademik seseorang dipengaruhi oleh performa dari rekan-rekannya.
Penemuan masa lalu telah menunjukkan bahwa obesitas dapat menular secara sosial, dan kondisi emosional orang juga cenderung dapat menyebar melalui jaringan sosial. Maka, untuk melihat ada tidaknya kecenderungan yang sama dalam kinerja akademik, para peneliti melibatkan 160 murid sekolah menengah atas (SMA) yang disurvei untuk mengetahui sahabat, teman baik, kenalan, dan relasinya. Para peneliti juga mengumpulkan informasi tentang peringkat kelasnya sejak tingkat pertama hingga tingkat akhir.
Secara umum, siswa yang berteman dengan siswa yang memiliki nilai lebih tinggi daripadanya, mengalami kenaikan nilai pada tingkat akhir sekolah. Efeknya cukup besar, siswa yang sebelumnya berada di peringkat ke-100 dan berteman dengan siswa peringkat ke-50, maka ia akan naik 10 hingga 15 peringkat.
Temuan menunjukkan prestasi akademis dapat menular secara sosial dan bergerak melalui lingkaran teman. Rekan dapat mempengaruhi perilaku seperti kebiasaan belajar, tetapi sebenarnya rekan juga memberikan tekanan. Jika rekan Anda berjuang untuk menghadapi ujian, maka mungkin Anda berpikir, "Saya harus bekerja lebih keras untuk dapat bersaing dengan teman-teman saya," ujar Sayama seperti dilansir LiveScience.
Kendati demikian, bukanlah tepat jika Anda ingin anak Anda berprestasi lantas menggantungkan pada lingkaran pertemanan. Faktor utama yang menentukan prestasi adalah motivasi, kata Sayama.
Rabu, 30 Januari 2013
Tips Agar Tetap Fit Saat Sibuk
Tuntutan pekerjaan yang tinggi membuat banyak orang jarang berolahraga dan makan makanan sehat. Akibatnya, tubuh mereka lebih rentan terhadap risiko kesehatan, terutama penyakit jantung. Ingin tetap sehat, walau sibuk bekerja? Berikut adalah empat cara mudah untuk tetap fit, seperti dilansir Yahoo! Shine.
1. Olahraga di rumah
Anda tak perlu pergi ke pusat kebugaran hanya untuk mendapatkan tubuh yang fit. Ada banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk berolahraga di rumah. Misalnya saja dengan naik-turun tangga dan membersihkan rumah.
2. Main bersama anak
Tahukah Anda bahwa main bersama anak juga dapat membakar lemak? Tentu saja, sebab bermain dengan anak membuat anak tetap aktif dan bergerak. Apalagi kalau anak Anda suka main kejar-kejaran. Wah, dijamin badan Anda akan tambah sehat.
3. Jalan-jalan ke luar rumah
Tak ada salahnya untuk menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar rumah Anda. Anda bisa mengajak serta anak-anak Anda agar acara jalan-jalan tersebut terasa lebih meriah. Siapa bilang refreshing itu mahal.
4. Memasak makanan yang sehat
Agar tubuh tetap sehat walau jarang olahraga, adalah dengan memasak makanan yang sehat dan minim lemak jenuh. Konsumsi lemak jenuh secara berlebihan dapat memicu berbagai risiko kesehatan, terutama penyakit jantung. Sertakan pula makanan sehat dalam menu harian Anda, seperti buah-buahan dan sayuran segar yang baik untuk tubuh.
Inilah empat cara sederhana untuk tetap fit, meski punya kesibukan sangat padat. Ingat, berkarya itu penting tetapi jangan lupa untuk menjaga kondisi tubuh Anda.
Sumber :: Merdeka.com
Menahan Marah Bisa Sebabkan Serangan Jantung
Terkadang penyakit tak hanya berasal dari hal-hal yang bersifat fisik, tetapi juga mental. Kebanyakan orang tak menyadari bahwa penyakit yang mereka derita berasal dari rasa 'sakit' secara psikologis. Seperti halnya amarah, rasa cemas, dan ketakutan.
Penelitian di jerman menunjukkan bahwa kebiasaan memendam amarah, ketakutan, dan rasa cemas adalah penyebab penyakit kardiovaskular, serangan jantung, dan stroke, seperti dilansir oleh NBC News (29/01).
Peneliti di Health Psychologies mengamati 22 penelitian yang melibatkan 6.000 pasien dan menemukan bahwa kebanyakan orang menahan amarah mereka ketika berurusan dengan hal-hal yang membuat depresi. Mereka menemukan bahwa orang yang sering menahan kemarahan mereka memiliki detak jantung yang lebih cepat.
Selain itu, meski pasien tidak menunjukkan tanda-tanda cemas, sebenarnya tubuh mereka menunjukkan tanda-tanda ketakutan dan stres, seperti peningkatan hormon cortisol dan berkeringat, ungkap peneliti Marcus Mund, profesor di Friedrich Schiller University Jena, Jerman.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sebuah eori menyatakan bahwa ketika seseorang menekan perasaan negatif, salah satu bagian sistem saraf, yaitu hypotalamic pituitary menjadi hiperaktif. Bagian sistem saraf ini akan melepaskan hormon stres, yaitu cortisol, yang lebih banyak dan meningkatkan tekanan darah.
Peneliti di Aichi University, jepang menyarankan agar seseorang berjalan-jalan sehari sekali untuk menurunkan tekanan darah. Berjalan-jalan santai juga bisa meredakan stres. Selain itu, ketika merasa marah, cemas, dan stres, sebaiknya Anda mulai mempertimbangkan untuk bicara dengan teman atau orang yang kepercayaan.
Sumber :: Merdeka.com
Langganan:
Postingan (Atom)


